Halaman

Pages

Laman

Kamis, 12 Desember 2013

Sejarah Teori Strukturalisme Genetik



Taofiq arohman
0620064811
PBSI Sore
UNIKAL

Sejarah Teori Strukturalisme Genetik


             Orang yang dianggap sebagai peletak dasar madhab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817) seorang kritikus dan sejarawan Francis. Ia mencoba menelaah sastra dari presfektif sosiologis dan mencoba mengembangkan wawasan sepenuhnya ilmiah dalam pendekatan sastra seperti halnya ilmu scientific dan exacta. Menurutnya bahwa satra tidak hanya karya yang bersifat imajinatif dan pribadi melainkan suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu lahir. Ini merupakan konsep ginetik pertama tetapi metode yang digunakan berbeda, setiap tokoh mempunyai metodenya masing-masing. Tetapi kesamaan konsep setruktur hanya pada konteks hubungan phenomena konsep. Lucien Goldman (1975) seorang Marksis adalah orang yang kemudian mengembangkan fenomena hubungan tersebut dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme genetic. Pada prinsifnya teori ini melengkapi sutrukturalisme murni yang yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas.
            Strukturalisme genetik memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.
            Pada pertengahan tahun 1970an, Indonesia mulai dikenal teori-teori sastra yang bersifat khusus strukturalisme dan sosiologi sastra. Orientasi sastra keduanya sangat berbeda. Teori strukturalisme merupakan salah satu teori sastra yang terbaru di Indonesia.
            Teori struktural berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. (Wellek & Warren, 1989: 39). Memaparkan bahwa Tidak mungkin kita menyusun: teori sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra; kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra. Oleh sebab itu diperlukan kajian sastra untuk memahami isi atau teks sastra tersebut. Salah satu objek kajiannya menggunakan teori struktural.
            Objek kajian sastra struktural adalah sistem sastra, yaitu konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan karya sastra secara utuh dan otonom. Menurut (Teww, 1984: 31) strukturalisme sering dipahami sebagai bentuk. karya sastra adalah bentuk. Oleh sebab itu strukturalisme sering dianggap sekedar formalisme modern. Memang, ada kesamaan antara teori struktural dan formalis yakni sama-sama menganalisis arti dari teks itu sendiri. Dengan kata lain dalam analisisnya tersebut menelaah sastra dalam segi intrinsik yang membangun suatu karya sastra. Yang melatarbelakanginya adalah pentingnya kehadiran suatu karya sastra. Sejak zaman Yunani Aristoteles telah mengenalkan strukturalisme dengan konsep: wholeness, unity, complexity, dan coherance.  
Pengertian dan Pembagian Teori Strukturalisme Genetik dan Teori Struktural lainya
             Teori struktural bertujuan untuk memaparkan dengan cermat makna karya sastra secara menyeluruh. Pendekatan struktural adalah suatu pendekan yang menitik beratkan karya sastra sebagai suatu struktur yang otonom, yang kurang lebih terlepas dari hal-hal yang berada diluar karya sastra (Teww, 1984:36).
            Pemahaman tentang hal diluar karya sastra, berangkat dari karya itu sendiri. Teori struktural ini dibutuhkan untuk mengetahui unsur-unsur berdasarkan paradigma pembangun struktur kebahasaannya  dan mengetahui pola strukturnya. Tujuan yang lain dari konsep teori struktural adalah untuk menjaga kritik Sastra agar tetap bekerja. Dalam teori struktural berkembang dan dibagi menjadi teori strukturalisme formalis,  strukturalisme dinamik, strukturalisme semiotik dan termasuk di dalamnya adalah teori strukturalisme genetik.
            Teori strukturalisme formalis merupakan Istilah Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis, psikologis, ideologis, sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya sastra itu sendiri. Para Formalis meletakkan perhatiannya pada ciri khas yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lainnya. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya. Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman Jakobson, Rene Wellek, Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov. Sumbangan penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal dari kaum Formalis. Pada prinsipnya teori strukturalisme formalis bahwa karya sastra merupakan sesuatu yang otonom atau berdiri sendiri dan merupakan struktur dari unsur-unsur pembangun karya sastra dan makna sebuah karya sastra hanya dapat diungkapkan atas jalinan atau keterpaduan antar unsur
      Teori strukturalisme dinamik merupakan jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotic dengan prinsipnya yaitu mengaitkan dengan asal-usul teks tetapi penekananya berbeda, struktural dinamik menekankan pada struktur, tanda dan realitas. Tokoh-tokoh pelopor pada struktur dinamik adalah Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis).
      Teori strukturalisme semiotik adalah  pada prinsipnya teori ini mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai tanda
            Teori Strukturalisme Genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya (Chalima, 1994). Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies of Racine (Chalima, 1994). Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif (Juhl dalam Arif, 2007).
            Struktural genetik merupakan salah satu pendekatan yang mencoba menjawab kelemahan dari pendekatan strukturalisme otonom. Kelemahan tersebut hanya terletak pada penekanannya yang berlebihan terhadap otonomi karya sastra sehingga mengabaikan dua hal pokok yang tidak kurang pentingnya, yaitu kerangka sejarah sastra dan kerangka sosial budaya yang mengitari karya itu (Faruk dalam Chalima 1994).  Pendekatan strukturalisme genetik juga mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme genetik kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa dalam teori strukturalisme genetik Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain, kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
            Dalam teori ini di terangkan bahwa teori tidak mengganggap karya sastra hanya sebagai sebuah struktur (structure), tetapi juga struktur yang bermakna (significant structure) sebagaimana yang tertulis dalam tulisan Goldman “the concept of the Significant Structure in the History of Culture” maksudnya bahwa karya sastra bukan hanya berciriksn adanya koherensi internal (Internal Koherence) tetapi setiap elemenya juga memiliki hubungan dengan makna struktur global, dunia, atau lingkungan sosial dan alamnya (manuaba, 2009:21)
            Istilah genetik mengandung pengertian bahwa karya satra itu mempunyai asal-usulnya (Genetik) di dalam proses sejarah atau masyarakat. Strukturalisme genetik  mengakui adanya homologi antara struktur karya sastra dengan kesadaran kolektif dan struktur dalam karya sastra merupakan ekspresi integral dan koheren dari semesta.
            Strukturalisme genetik dalam pendekatanya ialah mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme geneti kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan. Semua aktivitas itu merupakan respon dari subjek kolektif (subjek transindividual) dalam dunia sastra transindividual subjek yang artinya terjadi kesamaan rasa dan pikiran antara pengarang (penulis) karya sastra dengan para pembaca dalam memahami karya sastra atau fakta manusia tadi, terus pandangan dunia terhadap subjek kolektif (Transindividual Subject) fakta kemanusiaan dan terakhir adalah struktur karya sastra menurut Goldman karya sastra merupakan produk strukturasi dari transindividual subject yang mempunyai struktur yang koheren dan terpadu terus karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan dalam mengekspresikan pandangan dunia tersebut pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi relasi secara imajiner dalam pendapat tersebut golman mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik.
            Teori strukturalisme genetik menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi yaitu kelas sosial yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural dalam teori ini menekankan subjek transindividual yang berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam karya sastra misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia.     
Dalam penciptaan sebuah karya sastra menurut prinsip teori Genetik pengarang teks dipandang dari segi individu pengarang sebagai wakil menyuarakan suara sosial dari kelompok yang melahirkan karya sastra dengan kata lain bahwa pengarangnya sendiri bukanlah pengarang yang dipandang secara individu/ sendiri yang menciptakan karya tersebut tetapi karya sastra ditulis oleh subjek kolektiv yaitu lahirnya karya sastra diciptakan dari peran, keadaan dan lingkungan sekitar termasuk lingkungan keluarga yaitu anggota keluarganya sebagai subjek kolektiv pengarang, lingkungan sekolah yaitu teman sekolah, lingkungan masyarakat yaitu tetangga,masyarakat desanya yang menjadi kelompok/subjek kolektif ikut andil dalam lahirnya karya sastra,  lingkungan Organisasi, dan lain-lain. Menurut Goldman tidak semua kelompok layak dianggap sebagai subjek kolektif. Yang layak hanyalah kelompok yang pandangan dunianya tertuang dalam karya-karyanya atau yang sistem-sistem gagasan atau aktifitasnya cenderung ke arah penciptaan pandangan yang lengkap mengenai mengenai kehidupan manusia. Kelompok tersebut adalah memegang peranan yang menentukan dalam sejarah menimbulkan perubahan historis dan memiliki pengaruh yang dominan atas kresi kultural yang utama (Manuaba,2009: 22).



DAFTAR PUSTAKA

Arif. 2007. “Strukturalisme Genetik” (online), (http://arif-irfan-fauzi.blogspot.com, diakses tanggal 12 Januari 2011).
Chalima, Nur.1994. “Novel senja di jakarta sebuah analisis strukturalisme Genetik”. Skripsi. Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga
 Eagleton. 2007. Teori Sastra. Jakarta: Jalasutra.
Manuaba, Putera. 2009. Durga Umayi: Pergulatan Diri Manusia. Yogyakarta: Jenggala Pustaka.

Pradopo Rahmat Djoko. 2007 Beberapa teori sastra metode kritik dan penerapanya. Jakarta: Pustaka Pelajar.
__________________.1994 Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjamada university.
Suwardi Endraswara. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (penerjemah Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar