Halaman

Pages

Laman

Sabtu, 18 Juli 2015

Pidato Rekreatif

Pidato Rekreatif

Pidato rekreatif tidak selamanya menghasilkan humor sehingga orang tertawa. Apakah hanya mengeluarkan uneg-uneg atau hanya sekedar penghibur untuk melarikan diri dari kenyataan yang pahit. Ada kesepakatan lebih baik menentang status quo dengan humor-humor ketimbang senjata. Tampaknya ada hubungan erat antara keterbukaan humor dengan tingkat demokrasi. Makin lepas orang berhumor, makin demokratis negeri itu.
Contoh:
Tayangan di TV swasta, acara Istana BBM (Benar-Benar Mabok), ditampilkan ada tokoh yang mewakili Presiden dan WakiPresiden, dengan beberapa figuran Menteri Kabinet dan anggota DPR/MPR, bersama undangan. Pada sisi lain, makin otoriter suatu pemerintahan, makin tersebar humor-humor yang tidak jelas asal usulnya.


*   Karakteristik Pidato Rekreatif

Beberapa karakteristik yang dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat (2000) dalam berpidato rekreatif sebagai berikut:

a)      Tidak melulu melucu.
Alan H.Monroe menyebutnya “the speech to entertain”, pidato untuk menghibur. Tujuannya hanya untuk menggembirakan, melepaskan ketegangan, menggairahkan suasana atau sekedar memberikan selingan setelah rangkaian acara yang melelahkan.
Pidato rekreatif disampaikan dalam berbagai situasi:
1). Perhelatan atau pesta. Anda diminta untuk menyemarakan acara-acara yang sudah ada;
2) Pertemuan kelompok organisasi sosial, kelompok kecil, keluarga, memerlukan pidato rekreatif;
3) Jamuan makan malam. Sesudah jamuan biasanya diminta berpidato.


b)      Gembirakan diri Anda dahulu.
Pidato rekreatif harus disampaikan oleh orang berwajah ceria, riang, gembira dan santai. Kalau diri Anda tidak dapat diarahkan kepada kegembiraan, jangan paksakan diri Anda menggembirakan hati orang lain.

c)      Hindari rangkaian gagasan yang sulit.
Pilihlah topik-topik yang enteng, sederhana, mudah dicerna.

d)     Gunakan gaya bercerita.
Cerita sebaiknya dijalin begitu rupa sehingga berkaitan satu sama lain.

e)      Berbicaralah secara singkat.
Pidato rekreatif  hanya pada tahap perhatian,tidak mengikuti urutan bermotif lengkap. Berhentilah ketika para pendengar masih menginginkan Anda melanjutkan pidato.


*   Teori-Teori Humor

Teori humor jumlahnya sangat banyak, tidak satu pun yang persis sama dengan yang lainnya, tidak satu pun juga yang bisa mendeskripsikan humor secara menyeluruh, dan semua cenderung saling terpengaruh (Setia-wan, 1990). Dewasa ini, pengertian humor yang paling awam , ialah sesuatu yang lucu, yang menimbulkan kegelian atau tawa. Humor identik dengan segala sesuatu yang lucu, yang membuat orang tertawa. Pengertian awam tersebut tidaklah keliru.

Dalam Ensiklopedia Indonesia (1982), seperti yang dinyatakan oleh Setiawan (1990), Humor itu kualitas untuk menghimbau rasa geli atau lucu, karena keganjilannya atau ketidakpantasannya yang menggelikan; paduan antara rasa kelucuan yang halus di dalam diri manusia dan kesadaran hidup yang iba dengan sikap simpatik. Lebih lanjut, teori humor dibagi dalam tiga kelompok (Manser, 1989), meliputi:

(1)   Teori superioritas dan meremehkan
Yaitu jika yang menertawakan berada pada posisi super; sedangkan objek yang ditertawakan berada pada posisi degradasi (diremehkan atau dihina). Plato, Cicero, Aristoteles, dan Francis Bacon (dalam Gauter, 1988) mengatakan bahwa orang tertawa apabila ada sesuatu yang menggelikan dan di luar kebiasaan. Menggelikan diartikan sebagai sesuatu yang menyalahi aturan atau sesuatu yang sangat jelek. Lelucon yang menimbulkan ketertawaan, juga mengandung banyak kebencian. Lelucon selalu timbul dari kesalahan/kekhilafan yang menggoda dan kemarahan;

(2)   Teori mengenai ketidakseimbangan, putus harapan, dan bisosiasi.
Arthur Koestler (Setiawan, 1990) dalam teori bisosiasinya mengatakan bahwa hal yang mendasari semua bentuk humor adalah bisosiasi, yaitu mengemukakan dua situasi atau kejadian yang mustahil terjadi sekaligus. Konteks tersebut menimbulkan bermacam-macam asosiasi;

(3)   Teori mengenai pembebasan ketegangan atau pembebasan dari tekanan.
Humor dapat muncul dari sesuatu kebohongan dan tipuan muslihat; dapat muncul berupa rasa simpati dan pengertian; dapat menjadi simbol pembebasan ketegangan dan tekanan; dapat berupa ungkapan awam atau elite; dapat pula serius seperti satire dan murahan seperti humor jalanan. Humor tidak mengganggu kebenaran.

Fuad Hasan dalam tulisan Humor dan Kepribadian (1981) membagi humor dalam dua kelompok besar, yaitu:
(1) Humor pada dasarnya berupa tindakan agresif yang dimaksudkan untuk melakukan degradasi terhadap seseorang;
(2) Humor adalah tindakan untuk melampiaskan perasaan tertekan melalui cara yang ringan dan dapat dimengerti, dengan akibat kendornya ketegangan jiwa.

Arwah Setiawan (dalam Suhadi, 1989), mengatakan sebagai berikut: Humor itu adalah rasa atau gejala yang merangsang kita untuk tertawa atau cenderung tertawa secara mental, ia bisa berupa rasa, atau kesadaran, di dalam diri kita (sense of humor); bisa berupa suatu gejala atau hasil cipta dari dalam maupun dari luar diri kita. Bila dihadapkan pada humor, kita bisa langsung tertawa lepas ataucenderung tertawa saja; misalnya tersenyum atau merasa tergelitik di dalam batin saja. Rangsangan yang ditimbulkan haruslah rangsangan mental untuk tertawa, bukan rangsangan fisik seperti dikili-kili yang mendatangkan rasa geli namun bukan akibat humor .

Persoalan humor oleh beberapa orang dianggap sebagai persoalan teori estetik ,yang dicoba untuk diterangkan lewat berbagai teori tentang humor. Teori humor mencoba menerangkan bagaimana suatu hal dapat membangkitkan tawa atau geli pada seseorang. Seperti yang diungkapkan Setiawan (1990) dalam majalah Astaga, teori humor digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
(1)   Teori Keunggulan
Seseorang akan tertawa jika ia secara tiba-tiba memperoleh perasaan unggul atau lebih sempurna dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kesalahan, kekurangan atau mengalami ke-adaan yang tidak menguntungkan. Kita dapat tertawa terbahak-bahak pada waktu melihat pelawak terjatuh, terinjak kaki temannya serta melakukan berbagai kekeliruan dan ketololan;

(2)   Teori Ketaksesuaian
            Perasaan lucu timbul karena kita dihadapkan pada situasi yang sama sekali tak terduga atau tidak pada tempatnya secara mendadak, sebagai perubahan atas situasi yang sangat diharapkan. Harapan dikacaukan, kita dibawa pada suatu sikap mental yang sama sekali berbeda.
Sebagai contoh adalah rasa humor yang timbul karena kita melihat kartun yang menggambarkan seseorang yang sedang mancing. Gambar pertama, menunjukkan orang dengan penuh harapan menunggu umpannya dilahap ikan. Gambar kedua menunjukkan rasa gembira orang itu karena ada tanda-tanda bahwa ikan yang besar telah menarik kailnya. Gambar ketiga, menunjukkan tiba-tiba, orang itu tercebur ke sungai. Rupanya, ikan yang amat besar telah menyeretnya ke dalam sungai;

(3)   Teori Kelegaan atau Kebebasan
Inti humor adalah pelepasan atas kekangan-kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Bila dorongan-dorongan batin alamiah mendapat kekangan, dapat dilepaskan atau dikendorkan, misalnya lewat lelucon seks, sindiran jenaka atau umpatan, meledaklah perasaan menjadi tertawa.

Seorang pakar humor dari Semarang, Jaya Suprana, rupanya sudah menjadi korban kepusingan dalam upaya memaham segala benang ruwet tentang teori humor, yang akhirnya membuang segala pretense untuk memasang perumusan apa pun terhadap humor. Ia dengan ringan dan riangnya mengumumkan bahwa humor itu indah, sebuah misteri dalam kehidupan yang tak perlu lagi dikekang dalam batasan pemahaman (Suhadi, 1989).

*   Teknik-Teknik Humor

1)      Teknik Exaggeration
Melebihkan sesuatu secara tidak proporsional. Misalnya, ungkapan “hujan lokal” bagi pembicara yang “menyemburkan” air liur; parodi –meniru gaya suatu karya serius (lagu, pepatah, puisi) dengan penambahan agar lucu, misalnya mengubah lirik lagu dengan kata-kata baru bernada humor;
2)       Teknik belokan mendadak
Membawa khalayak untuk meyakini bawa kita akan berbicara normal, namun tiba-tiba kita mengatakan sebaliknya atau tidak disangka-sangka pada akhir pembicaraan.
Contoh:
Saya mencintai seorang wanita, namun kami tidak bisa menikah karena keluarganya merasa keberatan. Saya tidak bisa apa-apa, karena keluarganya yang tidak setuju itu adalah suami dan anak-anaknya!; TV (baca: tivi) yang dibuat di Bandung dan bermerk “Parisj van Java” yaitu tipikir-pikir tidak ada.
3)      Teknik Plesetan Kata (TPK)
Untuk menerapkan TPK, daya kreativitas diperlukan untuk merangkai antara kata-kata asing, dengan kata-kata umum yang sudah dimengerti oleh otak kita. Karena itu, marilah kita sering  membaca kamus bahasa Indonesia dan  mempelajari arti/maknanya.
4)      Teknik Ekstraksi Kata (TEK)
Teknik Ekstraksi Kata (TEK) mirip dengan Akronim, yakni memperluas sebuah kata, menjadi beberapa kata. Perluasannya biasanya berdasarkan atas masing-masing suku kata atau masing-masing hurufnya.
Misalnya :
Mayjen >>> Mayor jenderal, SOS (Save Our Soul), Beriman : Bersih, indah dan nyaman, dll.
Di dalam Teknik Ekstraksi, kita bebas berkreasi berdasarkan kreativitas kita masing-masing. Semakin lucu, unik, khas, akan semakin bagus. Karena otak akan ‘senang’ mengingatnya.
Contoh Ekstraksi kata lucu, unik, dan khas :
Tuti >>> ( Tukang Tidur), Tukang Tipu, Tumit Tinggi
Gunawan >>> Gundul Menawan
Benci >>> bener2 Cinta, bener2 Ciamik
Cinta >>> Cincin Permata, Cina Tambun

*   Organisasi Pesan

Organisasi pesan dapat mengikuti 6 macam urutan ( sequence), yaitu : deduktif, induktif, kronoligis, logis, spasial dan topical. Urutan deduktif dimulai dengan menyatakan dulu gagasan utama kemudian memperjelasnya dengan keterangan penunjang, penyimpulan, dan bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda menyatakan dulu mengapa perlu menghentikan kebiasaan merokok, lalau menguraikan alasan-alasannya, anda menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila anda menceritakan sekian banyak contoh dan pernyataan dokter tentang akibat buruk merokok dan kemudian anda menyimpulkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, maka Anda menggunakan urutan induktif.
Dalam urutan kronologis, pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa.
Dalam urutan logis, pesan disusun berdasarkan sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab. Bila anda menjelaskan proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu ke gejala-gejalanya, maka anda mengikuti urutan logis dari sebab ke akibat.
Dalam urutan spasial, pesan disusun berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan jika pesan berhubungan dengan subjek geografis atau keadaan fisik lokasi..
Dalam urutan topikal, pesan disusun berdasarkan topik pembicaraan: klasifikasinya, dari yang penting ke yang kurang penting, dari yang mudah ke yang sukar, dari yang dikenal ke yang asing.

*  Teknik-teknik humor
1.      Teknik Memintal Kata
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan humor untuk menyegarkan suasana. Salah satu teknikhumor adalah memintal kata yang berupa plesetan kata. Caranya, mengubah bentuk atau susunan huruf, sehingga menimbulkan makna baru yang artinya sangat berbeda dengan makna semula.
Contoh :
 mendekap >> mendepak
 malo>>malu
sourire>>sore hari dan sebagainya
Ada beberapa cara untuk memplesetkan kata diantaranya:
a.       Baca kata asingnya dulu
b.      Kaitkan kata-kata asing tersebut dengan kata familiar yang sudah kita kenal kemudian diplesetkan
c.       Bayangkan kembali kata-kata tersebut dalam bayangan mental.
2.      Teknik Ekstraksi Kata
Teknik ini mirip dengan akronim,yakni memperluas sebuah kata menjadi beberapa kata. Misalnya : mayjen>.> mayor jenderal, SOS (Save Our Soul ), beriman:bersih,indah dan nyaman,dan sebagainya.
Di dalam teknik ekstrasi,kita bebas berkreasi berdasarkan kreativitas kita masing-masing. Semakin lucu,unik,khas, akan semakin bagus.
Contoh ekstrasi lucu,unik,dan khas:
Tuti>>tukang tidur,tukang tipu,tumit tinggi
Gunawan >>gundul menawan
Benci >>bener-bener cinta
Cinta >> cincin permata,cinta tambun.
           

       








Tidak ada komentar:

Posting Komentar