Halaman

RUU PERDUKUNAN?

0 komentar



RUU PERDUKUNAN?
Oleh: Taofiq Arrohman

Semua orang ramai membicarakan manusia dari Tanjung Duren, Jakarta Barat “Eyang Subur” yang katanya memiliki ilmu gaib yang tinggi. Kasus Eyang Subur dan Adi Bing Slamet semakin melambung kepermukaan dan semakin menarik minat para pemburu berita untuk memburu beritanya. Meroketnya Eyang Subur ke permukaan ketika Adi Bing Slamet dan sejumlah korban dari Eyang Subur menyatakan kesaksian seputar ajaran sesat dan berbagai perlakuan merugikan dari Eyang Subur kepada pengikutnya.

Di dunia keartisan tanah air, ada beberapa pengakuan, Dorce Gamalama misalnya “Saya anggap Eyang adalah orangtua, saya datang ke eyang hanya silahturahmi saja tidak ada maksud lain. Saya tidak pernah menganggap Eyang Subur itu sebagai guru saya. Eyang memang waktu itu saya lihat punya kharisma,” tutur artis serbabisa itu. Berbeda dengan penuturan Adi Bing Slamet, yang katanya Eyang Subur telah mengajarkan ajaran sesat tentang ilmu perdukunan kepadanya. Permasalahan tersebut kabarnya akan dibawa Adi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya, Adi menilai Eyang Subur sering mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.

Terkait konflik tersebut, pemerintah tidak lepas tangan atas perseteruan yang menghebohkan masyarakat tanah air. Hal inilah yang mendorong para
anggota dewan untuk studi ke Eropa guna membahas rancangan Undang-Undang yang terkait dengan dunia perdukunan. Namun rancangan undang-undang yang masih dalam rencana pemerintah ini belum bisa terealisasikan.

Pasal Perdukunan
Inilah Bunyi Pasal 293 Yang Mengatur Ilmu Perdukunan di RUU KUHP - Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang tengah  digodok Dewan Perwakilan Rakyat ternyata mengandung unsur  santet  Dalam rancangan undang-undang yang diajukan pemerintah tersebut, pasal 293 mengatur penggunaan ilmu hitam ini. Berikut ini bunyi Pasal 293 tersebut:
(1). Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.  (2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah dengan 1/3
(satu per tiga). Dari sekian rumitnya masalah RUU dan perdukunan yang menjadi perbincangan banyak orang ini menimbulkan berbagai tanggapan dari berbagai kalangan di masyarakat kita. Ada yang berpendapat hal itu hanya sebagai sensasi belaka. Menurut penulis adanya RUU PERDUKUNAN tersebut tidak efefktif untuk memecahkan kasus tersebut karena praktek perdukunan bersifat gaib. Sedangkan hukum sendiri bersifat fakta dan bisa dibuktikan secara ilmiah.

Hakikat Linguistik dan Objek Kajian Linguistik

0 komentar


Hakikat Linguistik dan Objek Kajian Linguistik
A.    Hakikat Linguistik
Linguistik berarti ilmu bahasa. Kata linguistik berasal dari kata Latin lingua yang berarti bahasa.Orang yang ahli dalam ilmu linguistik disebut linguis. Ilmu linguistik sering juga disebut linguistikumum (general linguistic) karena tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja.
Ferdinand De Saussure seorang sarjana Swiss dianggap sebagai pelopor linguistik modern. Bukunyayang terkenal adalah Cours de linguistique generale (1916). Buku tersebut dianggap sebagai dasarlinguistik modern. Beberapa istilah yang digunakan olehnya menjadi istilah yang digunakan dalamlinguistik. Istilah tersebut adalah langue, language, dan parole.
Langue mengacu pada suatu sistem bahasa tertentu yang ada dalam benak seseorang yang disebutcompetence oleh Chomsky. Langue ini akan muncul dalam bentuk parole, yaitu ujaran yangdiucapkan atau yang didengar oleh kita. Jadi, parole merupakan performance dari langue. Paroleinilah yang dapat diamati langsung oleh para linguis. Sedangkan language adalah satu kemampuanberbahasa yang ada pada setiap, manusia yang sifatnya pembawaan. Pembawaan ini pun harusdikembangkan melalui stimulus-stimulus. Jika dikaitkan dengan istilah-istilah dari Ferdenand DeSaussure, maka yang menjadi objek dalam linguistik adalah hal-hal yang dapat diamati dari bahasayakni parole dan yang melandasinya yaitu langue.
Bagi linguis, pengetahuan yang luas tentang linguistik tentu akan sangat membantu dalammenyelesaikan dan melaksanakan tugasnya. Seorang linguis dituntut untuk dapat menjelaskanberbagai gejala bahasa dan memprediksi gejala berikutnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminatsastra, linguistik akan membantu mereka dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.Bagi guru bahasa pengetahuan tentang seluruh subdisiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis,dan semantik) akan sangat diperlukan. Sebagai guru bahasa, selain dituntut untuk mampuberbahasa dengan baik dan benar mereka juga dituntut untuk dapat menjelaskan masalah dangejala-gejala bahasa. Pengetahuan tentang linguistik akan menjadi bekal untuk melaksanakan tugastersebut.
Bagi penyusun kamus, pengetahuan tentang linguistik akan sangat membantu dalam menjalankantugasnya. Penyusun kamus yang baik harus dapat memahami fonem-fonem bahasa yang akandikamuskan, penulisan fonem tersebut, makna seluruh morfem yang akan dikamuskan, dansebagainya. Para penyusur buku pelajaran tentu banyak membutuhkan konsep-konsep linguistikdalam benaknya. Buku pelajaran yang akan disusun harus menggunakan kalimat yang sesuai dengantingkat pemahaman siswa yang akan membaca buku tersebut. Di samping itu mereka harus mampumenyajikan materi dengan kosakata dan kalimat yang tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.Linguistik akan sangat bermanfaat bagi mereka.
Sebagai sebuah gejala yang kompleks, bahasa dapat diamati atau dikaji dari berbagai segi. Hal inimelahirkan berbagai cabang linguistik. Berdasarkan segi keluasan objek kajiannya, dapat dibedakanadanya linguistik umum dan linguistik khusus. Berdasarkan segi keluasan objek kajiannya, dapatdibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik. Berdasarkan bagian-bagian bahasa mana yangdikaji, dapat dibedakan adanya linguistik mikro dan makro yang sering juga diistilahkan denganmikrolinguistik dan makrolinguistik. Berdasarkan tujuannya, dapat dibedakan antara linguistikteoritis dan linguistik terapan. Berdasarkan alirannya, linguislik dapat diklasifikasikan atas linguistiktradisional, linguistik struktural, linguistik trasformasional, linguistik generatif, linguistik relasional.

Pada dasarnya, linguistik terdiri atas dua bidang besar, yaitu:
1.      Mikrolinguistik, yaitu bidang linguistik yang mempelajari bahasa dari dalam dengan kata lain mempelajari struktur bahasa itu sendiri
2.      Makrolinguistik, yaitu bidang linguistik yang mempelajari bahasa dlam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, termasuk di dalamnya bidang interdisipliner dan bidang terapan.
Ditinjau dari sudut tujuan, linguistik dapat dibagi atas dua bidang, yaitu linguistik teoritis dan terapan.
1.      Linguistik teoritis, yaitu bidang linguistik yang mengkaji dan mengupas bahasa untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa. Linguistik teoritis ada ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Linguistik yang bersifat umum biasanya disebut linguistik umum yang berusaha memahami ciri-ciri umum dari berbagai bahasa. Linguistik teoritis yang khusus berusaha menyelidiki ciri-ciri khusus dalam bahasa tertentu saja. Linguistik teoritis mencakup: linguistik deskriptif, linguistik historis komparatif. Pembagian ini dirinci satu persatu sebagi berikut:

a.       Linguistik teoritis adalah cabang llinguistik yang memusatkan perhatian pada teori umum dan metode-metode umum dalam penyelidikan bahasa.
b.      Linguistik deskriptif disebut juga linguistik sinkronis adalah bidang linguistik yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu saja. Misalnya: bahasa Indonesia dewasa ini, bahasa Inggris yang dipakai oleh shakepeare, dan sebagainya tanpa memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu. Cabang ini terbagi atas (1) fonologi deskriptif, (2) morfologi deskriptif, (3) sintaksis deskriptif, (4) leksikologi deskriptif. Fonologi meneliti tentang ciri-ciri bunyi dan fungsi bunyi. Morfologi menyelidiki tentang kata, unsur, dan proses pembentukannya, sintaksis menyelidiki satuan antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis termasuk dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Leksikologi menyangkut perbendaharaan kata atau leksikon.
c.       Linguistik historis komparatif (diakronis) adalah linguistik yang mempelajari dan menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahsa dengan bahasa lain untuk menemukan bahasa purba atau bahasa proto sebagai bahasa induk bersama. LHK terbagi pula atas bidang (1) fonologi), (2) morfologi, (3) sintaksis, (4) leksikologi historis komparatif. Dinyatakan pula bahwa bahasa mempunyai aspek makna atau aspek semantis. Penyelidikan tentang aspek ini baik yang bersifat teoritis umum maupun yang bersifat deskriptif dan bersifat historis komparatif, disebut semantik. Bidang ini sering disebut semantik linguistik, untuk membedaknnya dengan semantik filosofis, yakni cabang ilmu filsafat yang juga menyelidiki makna.

2.      Linguistik Terapan (appllied linguistics) mencakup bidang: pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikologi, fonetik terapan, sosiolinguistik terapan, pembinaan bahasa internasional, pembinaan bahasa khusus, linguistik medis, mekanolinguistik. Penjelasanya sebagi berikut:
a.       Pengajaran bahasa mencakup metode-metode pengajaran bahasa, ucapan bunyibunyi dengan pelajaran bahasa, strategi, model, dan cara-cara pengajaran bahasa.
b.      Penerjemahan, mencakup metode dan tehnik pengalihan amanat dari satu bahasa ke bahasa lain
c.       Leksikografi, mencakup metode dan tehnik penyusunan kamus
d.      Fonetik terapan, mencakup metode dan tehnik pengucapan bunyi-bunyi dengan tepat, misalnya untuk melatih orang yang gagap, untuk melatih pemain drama, dan sebagainya.
e.       Sosiolinguistik terapan, mencakup pemanfaatan wawasan sosiolinguistik untuk keperluan praktis, seperti perencanaan bahasa, pembinaan bahasa, pemberantasan buta aksara, dan sebagainya.
f.       Pembinaan bahasa Internasional, mencakup usaha untuk menciptakan komunikasi dan saling pengertian internasional dengan menyusun bahasa buatan seperti bahasa esperanto.
g.      Pembinaan bahasa khusus, mencakup penyusunan istilah dan daya bahasa dalam bidang-bidang khusus, antara lain dalam militer, dalam dunia penerbangan, dalam dunia pelayaran.
h.      Linguistik medis, membantu bidang patologi dalam hal penyembuhan cacat bahasa
i.        Grafologi, kajian linguistik tentang tulisan-tulisan.
j.        Mekanolinguistik, mencakup penggunaan linguistik dalam bidang komputer dan usaha untuk membuat mesin penerjemah, usaha pemanfaatan komputer dalam penyelidikan bahasa, misalnya dalam penyusunan konkordansi teks-teks, dalam perhitungan frekwensi kata-kata untuk perkamusan dan pengajran bahasa. Bidang ini disebut juga linguistik komputasi.

Kajian linguistik terapan merupakan salahsatu bagian dari kajian linguistik interdisipliner. Kajian interdisipliner yang antara lain psikolinguistik, sosiolinguistik, etnolinguistik. Secara singkat penejelasanya sebagi berikut:
a.       Filsafat bahasa adalah kajian yang mengupas kodrat dan kedudukan bahasa manusia dalam hubungannya dengan filsafat dan peranan melahirkan pemikiran filsafat.
b.      Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan prilaku serta akal budi manusia atau ilmu interdisipliner linguistik dengan psikologi.
c.       Etnolinguistik adalah cabang linguistik yang menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyrakat pedesaan atau masyarakat yang belum mempunyai tulisan. Bidang ini disebut juga linguistik antropologi.

Dari sudut pandang lain, Achmad HP (1996/1997) mengemukakan bidang linguistik dapat diitinjau dari berbagai aspek sebagai berikut: Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalahmasalah lain. Mengingat bahwa objek linguistik yaitu bahasa merupakan fenomena yang tidak dapat di lepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka pembidangan linguistik itu pun menjadi sangat banyak. Pembidangan linguistik itu berdasarkan: (a) objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu, (b) objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanajang masa, (c) objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu sendiri dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa, (d) tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau tujuan penerapan, (e) teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.
a.       Berdasarkan cakupan objek kajiannya, linguistik dibedakan dengan adanya linguistik umum dan linguistik khusus Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yanng berlakku pada bahasa-bahasa tertentu seperti bahasa inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa Jawa. Kajian umum ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu mungkin studi mengenai fonologi umum dan khusus, morfologi umum dan khusus atau juga studi sintaksis umum dan husus.
b.      Berdasarkan kurun waktu objek kajiannya, linguistik dibedakan menjadi linguistik sinkronik dan diakronik Seperti yang sudah disinggung di muka, linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada kurun waktu tertentu. Misalnya, mengkaji bahasa indonesia pada masa balai pustaka, bahsa Jawa dewasa ini, atau juga bahasa Inggris pada masa William Shakepeare. Studi linguistik sinkronis ini biasa disebut juga studi linguistik deskriftif, karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa- bahasa) pada masa yang tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini disebut pula historis komparatif. Oleh karena itu dikenal adanya linguistik historis komparatif. Tujuan linguistik diakronik inii terutama adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya. Hasil kajian diakronik seringkali diperlukan untuk menerangkan deskripsi studi sinkronik.
c.       Berdasarkan hubungan dengan faktor di luar bahasa objek kajiannya dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro Linguistik mikro mengarahkan kajian pada struktur internal atau struktur bahasa tertentu atau subsistem bahasa tertentu, maka dalam linguistik mikro terdapat pembidangan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Ada juga yang menggabungkan morfologi dengan sintaksis menjadi morfosintaksis, dan menggabungkan morfologi dengan semantik dan leksikologi menjadi leksikosemantik. Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata. Morfologi dan sintkasis dalam peristilahan tata bahasa tradisional biasanya berada dalam satu bidang yaitu gramatikal atau tata bahasa. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual, sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosakata sutau bahasa dari berbagai aspeknya.

B.     Objek Kajian Linguistik
Objek kajian linuistik adalah bahasa.
a.      Pengertian Bahasa
Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian. Dalam pendidikan formal di SMA,”Bahasa adalah alat komunikasi.”Sedangkan definisi bahasa menurut Sapir, Badudu, dan Keraf bahasa itu tidak menonjolkan fungsi, tetapi menonjolkan sosok bahasa itu seperti apa yang dikemukakan Kridalaksana dan juga Joko Kentjono, yaitu “Bahasa adalah system lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.”
Kriteria dalam menentukan dua buah tuturan adalah dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara linguistik dua buah tuturan dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda apabila anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti. Tetapi secara politis, dua buah bahasa yang berbeda berdasarkan asal negaranya.
Oleh karena itu, karena rumitnya dalam menentukan suatu parole (objek konkret) bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa lain, maka ingga kini belum pernah ada angka yang pasti mengenai jumlah bahasa yang ada didunia ini.


b.       Hakikat Bahasa
1.      Bahasa Sebagai Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai sebuah sistem, bahasa sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis, artinya bahasa tersusun berdasarkan suatu pola tertentu, sedangkan sistemis artinya bahasa bukan merupakan system tunggal, tetapi terdiri dari sub-sistem/sistem bawahan.
Jenjang subsistem dalam linguistik, dikenal dengan nama tataran linguistic atau bahasa. Jika diurutkan dari tataran terendah sampai tertinggi, yang menyangkut ketiga subsistem struktural yaitu tataran fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana.
Dalam morfologi kata menjadi satuan terbesar dan dikaji struktur dan proses kajiannya, sedangkan sintaksis kata menjadi satuan terkecil dan dikaji sebagai unsur pembentuk sintaksis yang lebih besar.

2.      Bahasa Sebagai Lambang
Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dengan berbagai seluk-beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah yang disebut ilmu semiotika atau semiologi. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang membuat penuturnya bisa menyampaikan semua pemikiran atau sikap sebagai sebuah lambang atau simbol untuk mengacu pada sesuatu yang disimbolkan. Hanya yang perlu digaris bawahi bahwa antara lambang dengan sesuatu yang dilambangkan tidak ada hubungan secara langsung. Setiap kata memang mengacu pada yang dilambangkan. Namun, kata saja tidak bisa dipahami secara utuh tanpa melibatkan konteks penggunaan kata itu dalam struktur yang lebih besar, seperti frasa, klausa, dan kalimat. Konteks berperan penting dalam penggunaan suatu kata sebagai lambang.
3.       Bahasa Adalah Bunyi
Yang dimaksud dengan bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang diucapkan oleh alat ucap manusia. Dalam linguistik yang disebut bahasa, yang primer adalah yang diucapkan, yang dilisankan, yang keluar dari alat ucap manusia. Bahasa yang dilisankan inilah yang menjadi objek linguistik. hanyalah bersifat sekunder.
4.      Bahasa Itu Bermakna
5.      Yang dilambangkan dalam lughah itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiraan yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata (kalimah), frasa (tarki:b), klausa (jumailah), kalimat (jumlah), dan wacana (maqa:l). Semua satuan itu memiliki makna. Namun karena ada perbedaan tingkatannya, maka jenis maknanya pun tidak sama. Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal (al-ma’na:al-lafzhi:); yang berkenaan dengan frasa, klausa dan kalimat disebut makna gramatikal (al-ma’na: al-nahwi:); dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik atau makna konteks (al-ma’na: al-tada:wuli: atau al-ma’na: al-siya:qi:).
6.      Bahasa Itu Arbitrer
Yang dimaksud dengan istilah arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Andaikata ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkan, tentu lambang yang dalam bahasa Arab berbunyi (bait) akan disebut juga (bait) dalam bahasa Indonesia, bukan (rumah). Dengan kata lain, tidak ada kata yang baik dan kata yang buruk dalam membincangkan nama-nama satuan-satuan kosakata.
7.      Bahasa Itu Konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvesional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
8.      Bahasa Itu Produktif
Meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur yang jumlahnya terbatas dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa tersebut. Oleh karenanya, bahasa dikatakan produktif.
9.      Bahasa Itu Unik
Bahasa dikatakan bersifat unik berarti setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini menyangkut system bunyi, sistem pembentukan kata, kalimat atau system-sistem lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia yaitu bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, maksudnya makna kata tetap yang berubah makna keseluruhan kalimat.
10.  Bahasa Itu Universal
Ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri itu menjadi unsur bahasa yang paling umum yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Bukti lain dari keuniversalan yang bermakna adalah berupa kata (kalimah), frasa (tarki:b), klausa (jumailah), kalimat (jumlah), dan wacana (maqa:l). Namun, pembentukan satuan-satuan tersebut mungkin tidak sama.
11.  Bahasa Itu Dinamis
Bahasa merupakan satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk hidup yang berbudaya dan bermasyarakat. Dalam kehidupan didalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah-ubah, maka bahasa juga men-jadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, dan menjadi tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.
 Perubahan bahasa bisa terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Perubahan yang paling jelas, dan paling banyak terjadi terdapat pada bidang leksikon dan semantik. Hampir setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan budaya dan ilmu, atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna yang baru. Perubahan bahasa yang terjadi bisa berupa pengembangan dan perluasan ataupun berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa bersangkutan. Kemampuan adaptasi yang dimiliki oleh bahasa inilah yang membuat sebagian ahli menganggap bahwa bahasa itu sempurna (al-lughah ka:milah).
12.  Bahasa Itu Bervariasi
Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu, untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar dan untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau nonstandar.
13.  Bahasa Itu Manusiawi
Bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi binatang bersifat terbatas, dalam arti hanya digunakan untuk keperluan hidup “kebinatangannya” itu saja.

- Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger