Halaman

Semantik

0 komentar


 1.      Hakikat Semantik
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).
Dalam bidang semantik istilah yang biasa digunakan untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti, 1982:98). Sedangkan istilah kata,yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti, 1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam makalah ini kedua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama.
Yang perlu dipahami adalah tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Misalnya leksem seperti agama, cinta, kebudayaan, dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan, yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Misal kata buaya dalam kalimat (1).
(1). Dasar buaya, ibunya sendiri ditipunya.
Oleh karena itu, kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Makna sebuah kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya. Contoh, seorang setelah memeriksa buku rapor anaknya dan melihat angka-angka dalam buku rapor itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya dengan nada memuji.
(2). ”Rapormu bagus sekali, Nak!”
Jelas, dia tidak bermaksud memuji walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur tau mungkin mengejek anaknya itu.

2.      Aspek Makna
Makna adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari semantik selalu saja melekat dari apa saja yang kita tuturkan. ada pendapat para ahli yaitu Mansoer Pateda mengemukakan istilah makna merupakan kata-kata yang membinggungkan. makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. menurut ulman bahwa makna adalah hubungan antara makan dengan pengertian
Dalam kanus linguistik pengertian makna dijabarkan menjadi:
1. maksud pembicara
2. pengaruh penerapan bahasa
3. hubungan dalam arti kesepadanan atau tidak kesepadanan
4. cara menggunakan lambang-lambang bahasa.

Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal yaitu
1.      Pengertian
pengertian disebut juga dengan tema. pengertian ini dapat dicaapai apabila pembica dengan lawan bicara atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati brsama. Lyons (dalam Mansoer Pateda, 2001:92) mengemukakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain didalam kosakata.
contoh:
a. celana ini pendek.
b. celana ini tidak pendek. 
Kalimat (a) dan (b) memiliki satu pengertian, meskipun kata pendek diganti dengan ukuran kata tidak panjang.

2.      Nilai Rasa (feeling)
Aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. jadi setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
contoh:
"saya akan pergi "(menunjuk pada dorongan) "engkau malas"(menunjukan pada penilain) kata-kata: saya, pergi, malas, mempunyai nilai rasa.

3.      Nada (tone)
Aspek makna nada menurut Shipley adalah sikap pembicar terhadap kawan bicara. dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menemukan sikap tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
contoh:
"pulang  " (kata ini bahwa pembicara jengkel atau dalam suasana tidak ramah).
 
"pulang ?"(kata ini menunjukan bahwa pembicara menyidir).
4.      Maksud (intention)
Aspek maksud menurut Shipley merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.
contoh:
orang berkata"Hai akan hujan". pembicara bermaksud:
a. cepat-cepat pergi.
b. bawa payung.
c, tunda dulu keberangkatan.

3.      Medan dan Komponen Makna
Medan Makna
Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal, yang dimaksud dengan medan makna (semantic domain, semantic field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna. Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya nama-nama warna dan nama-nama perkerabatan. 
Kata-kata atau leksem-leksem yang megelompokkan dalam satu medan makna, berdasrkan sifat hubungan semantisnya dapat di bedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu.
Kalau kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik, karena sifatnya yang linear, maka kelompok set menunjuk, pada hubungan pradigmatik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set biasanya mempunyai kelas yang sama dan tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap kata dalam set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota lain dalam set itu umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari anak-anak menjadi dewasa, sedangkan kata sejuk merupakan suhu diantara dingin dan hangat, maka kalau kata-kata yang satu set dengan melihat dan memakan dibagankan adalah menjadi sebagai berikut:

SET (PARADIGMATIK)
Melihat
Memakan
Memperhatikan
Mengunyah
Melototi
Menelan
Mengintip
Melahap
Meliri
Menghabiskan

Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar artinya bagi kita dapat memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam satu masyarakat bahasa. Namun pengelompokan ini sering kurang jelas karena adanya ketumpang tindihan unsur-unsur leksikal yang di kelompokkan tanpa mempedulikan adanaya nuansa makna, perbedaan makna denotasi dan konotasi. Misalnya, kata kerja melihat itu juga memiliki juga makna “memperhatikan”, melihat suatu objek dengan seksama secara fokus jadi pengelompokan kata atas medan makana ini hanya tertumpu pada makna dasar, makna denotatif, atau makana pusatnya saja.      
Dalam pembicaraan tentang jenis makna ada juga, yaitu jenis makna kolokasi. Yang dimaksud di sini adalah makna kata tertentu berkenaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata yang lain yang merupakan kolokasinya.


Komponen Makna
Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut komponen makna), yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu, berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya.


Komponen Makna
Sepeda motor
Mobil
Sepeda
Boot
1.      alat transportasi
2.      Bensin
3.      Roda
4.      Mesin
5.      Alat transportasi darat
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
-
+
+
+
-
+
-
Keterangan : Tanda + mempunyai komponen makna tersebut, dan tanda – tidak mempunyai  komponen makna tersebut.
Konsep analisis dua-dua ini (lazim disebut anlisis biner) oleh para ahli kemudian diterapkan juga untuk membedakan makna suatu kata dengan kata lain. Denga juga dapat analisis biner ini kita juga dapat menggolong-golongkan kata atau unsur leksikal sesuai dengan medan makna.
Ada tiga hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan analisis biner tersebut.
Pertama, ada pasangan kata yang satu diantaranya lebih bersifat netral atau umum sedangkan yang lain bersift khusus. Misalnya, pasangan kata siswa dan siswi. Kata siswa lebih bersifat umum dan netral karena dapat termasuk “pria” dan “wanita”. Sebaliknya kata siswi lebih bersift khusus karena hanya mengenai “wanita” saja.
Kedua, ada kata atau unsur  leksikal yang sukar dicari pasanganya karena memang mungkin tidak ada, tetapi ada juga yang memiliki pasangan lebih dari satu. Contoh yang sukar dicari pasanganya adalah kata-kata yang berkenaan dengan nama warna. Contoh kedua yaitu contoh yang pasanganya lebih dari satu, yaitu berdiri misalnya. Kata berdiri bukan hanya bisa dipertentangkan dengan kata tidur, tetapi bisa saja dengan kata tiarap, rebah, duduk, jongkok dan berbaring.
Ketiga, kita sering kali sukar mengatur ciri-ciri semantic itu secara bertingkat, mana yang lebih bersifat umum, dan mana yang lebih bersifat khusus. Contohnya, ciri jantan dan dewasa, mana yang lebih bersifat umum antara jantan dan dewasa. Bisa jantan, tetapi bisa juga dewasa sebab tidak ada alas an bagi kita untuk menyebutkan cirri jantan lebih bersifat umum daripada dewasa, begitu juga sebaliknya, karena ciri yang satu tidak menyiratkan makna yang lain.
Di samping memiliki beberpa mamfaat, analisis komponen makna juga memiliki keterbatasan. Analisis komponen makna tidak dapat diterapkan pada semua kata, karena komponen makna kata berubah-ubah, bervariasi dan bertumpang tindih. Analisis komponen makna lebih banyak dilaksanakan pada kelas kata nomina, belum banyak dilakukan pada kelas kata verba, atau adjektiva, kata-kata dari kelas itu juga dapat diberi ciri-ciri semantik.
Walaupun analisis komponen makna ini dengan pembagian biner banyak kelemahanya tetapi cara ini banyak manfaatnya untuk memahami makna kalimat. Para tata bahasawan tranformasional juga telah menggunakan teknik ini sehingga minat terhadap anlisis komponen makna ini menjadi meningkat. Analisis semantic kata yang dibuat seperti diatas tentu banyak memberi manfaat dalam memahami makna-makna kalimat, tetapi pembuatan daftar kosa kata dengan disertai ciri-ciri semantiknya secara lengkap bukanlah pekerjaan yang mudah sebab memerlukan pengetahuan budaya, ketelitian, waktu, dan tenaga yang cukup besar.

4.      Semantik dan disiplin ilmu lain
Semantik sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna bahasa, tidak akan pernah lepas kaitannya dengan ilmu lain, seperti sosiologi, psikologi dan ilmu sastra, karena dari ketiganyalah bahasa itu lahir.

a.       Semantik dengan Sosiologi
semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan sering dijumpai dalam kenyataan masyarakat dalam menggunakan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu yang dapat menandai identitas maupun kelompok penuturnya
Hasil observasi di Mataram:
1.      Peneliti      : Kesini sama siapa Mas?
Narasumber     : sama cah-cah Mas
                        ( sama teman-teman Mas)
Kata “cah-cah” yang digunakan narasumber sama juga berarti “teman –teman” narasumber menggunakan kata “cah-cah” karena dirasa lebih menunjukkan keakrapan.
2.      Narasuber : Cewek-cewek ki pancen senenge do ngrumpi
( Cewek-cewek memang senangnya ngrumpi)
Kata “cewek” dan “wanita” sebenarnya mempunyai makna sama, kata “cewek” lebih identik digunakan oleh para remaja ataupun anak-anak muda, sedangkan kata “wanita” terkesan lebih sopan diucapkan dan identik dengan orangtua yang mengedepankan kesopanan dalam bertutur
b.      Semantik dengan Psikologi
Kajian semantik dengan psikologi tentunya lebih terkait hubungannya dengan kejiwaan, sebab ekpresi dalam jiwa seseorang diungkapkan melalui bahasa dan mempunyai makna-makna sesuai dengan konteksnya.
Hasil observasi di Mataram:
1.      Narasumber : saya senang berolahraga di Mataram kalau sore begini, ramai.
Kata “ Senang ” diartikan sebagai kegembiraan seseorang atas sesuatu yang dirasakannya. Tentung rasa itu timbul dari ekspresi jiwanya, sehingga berkaitan dengan ilmu psikologi. Contoh diatas merupakan analisis semantik adjektif dengan kata lain dapat dikatakan semantic yang berkaitan dengan positif dan negatif.
2.       Narasumber : tadi sempat ragu juga meh kesini, soalnya cuaca mendung.
Kata “ragu” yang diucapkan oleh narasumber juga bagian dari ekspresi jiwannya.

c.       Semantik dengan Ilmu Sastra
Dalam hubungannya semantik dengan sastra telah dikenal konsep makna, informasi, dan maksud. Ketiga konsep itu berbeda satu sama lain. Makna (meaning) adalah sesuatu yang berada di dalam ujaran atau gejala dalam-ujaran. Informasi (information) adalah suatu bentuk ujaran yang di dalamnya  membahas suatu objek kenyataan yang dibicarakan. Maksud (sense) adalah suatu bentuk arah tujuan dari si pengujar sendiri.
Hubungan ilmu semantik dengan ilmu sastra adalah dilihat dari konsep katanya. Mengingat dalam karya sastra itu sendiri banyak sekali kemunculan kata yang mengandung unsur semantis di dalamnya, maka maksud dari keterciptaan karya sastra itu sendiri juga memiliki makna tersirat dan tersurat di dalamnya. Dari situlah seorang pembaca akan menginterpretasi isi dari karya sastra itu sendiri sesuai dengan konsep pemikiran mereka masing-masing.
Lihatlah penggalan contoh berikut ini:

Matahari datang merangkai rupa cahaya pada dunia
Sebatang tubuh kulihat mulai berkayuh di atas sepeda tua
Menyelami batas raut menua dengan penuh rasa sabar
Suara pengharapan bertatap paruh pada tuhan kala itu
Berharap sumber kemaslahatan pun dihentak-hentakan dari perut bumi

Dalam penggalan puisi diatas tentunya setiap individu punya persepsi sendiri-sendiri dalam memaknai tiap untaian kata yang terkandung di dalamnya. Tidak usah keseluruhan dari isinya, dalam satu kata seperti halnya “Matahari” pun bisa dimaknai menjadi beberapa hal.  Tergantung dari persepsi individu dalam mengartikannya.
5.      Semantik
Semantik di dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris semantics, dari bahasa Yunani Sema (Nomina) ‘tanda’: atau dari verba samaino ‘menandai’, ‘berarti’.  Istilah semantik sendiri sudah ada sejak abad ke-17. Semantik dinyatakan dengan tegas sebagai ilmu makna, baru pada tahun 1990-an dengan munculnya Essai de semantikue dari Breal, yang kemudian pada periode berikutnya disusul oleh karya Stern.

6.      Semiotik
Semiotik berasal dari kata Yunani ‘semion’ yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan yanda, seperti sistem tanda dan yang berlaku bagi penggunaan tanda.

7.      Jenis Makna
Menurut Chaer (1994), makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteri lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.

a.       Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Leksikal adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita persamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Lalu, karena itu, dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1994). Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi (Chaer, 1994). Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna ’dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal ’tidak sengaja’.

b.      Makna Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja termasuk kata yang bermakna referensial karena mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut ’meja’. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai referen, jadi kata karena termasuk kata yang bermakna nonreferensial.

c.       Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh karena itu, makna denotasi sering disebut sebagai ’makna sebenarnya’(Chaer, 1994). Umpama kata perempuan dan wanita kedua kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu ’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ”nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang konotasinya positif.
d.      Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh berikut
(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam bidang kedokteran kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.

e.       Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.

f.       Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna ’bekerja keras’, meja hijau dengan makna ’pengadilan’.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.

g.       Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ’bulan’, raja siang dalam arti ’matahari’.

8.      Segi Tiga Makna
Citra mental / konsep
 



Lambang

Referen/objek

Segitiga makna tersebut menunjukkan bahwa di antara lambang bahasa dan konsep terdapat hubungan langsung, sedangkan antara lambang bahasa dengan referen (objek) TIDAK berhubungan langsung, karena harus melalui konsep.

9.      Kesimpulan
Bahwa dalam mempelajari ilmu semantik, kita juga perlu tahu, pengertian, sejarah semantik serta hubugan semantik dengan ilmu lain. Bahwa pengertian semantik adalah i cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Semantik sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna bahasa, tidak akan pernah lepas kaitannya dengan ilmu lain, seperti sosiologi, psikologi dan ilmu sastra, karena dari ketiganyalah bahasa itu lahir.
Semantik adalah ilmu linguistik yang mengkaji tentang makna bahasa baik itu frasa, kata, klausa, kalimat, wacana serta tanda. Makna adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari semantik selalu saja melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Aspek makna ada empat yaitu pengertian, rasa, nada, dan maksud.
Semiotik berasal dari kata Yunani ‘semion’ yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan yanda, seperti sistem tanda dan yang berlaku bagi penggunaan tanda.
Menurut Menurut Chaer jenis makna dibedakan menjadi tujuh yaitu Makna Leksikal dan makna gramatikal makna referensial dan nonreferensial, makna Denotatif dan konotatif, makna kata dan makna istilah, makna konseptual dan makna asosiatif, makna idiomatikal dan peribahasa, makna kias yang masing- masing menempati kedudukan dan fungsinya.
Segitiga makna tersebut menunjukkan bahwa di antara lambang bahasa dan konsep terdapat hubungan langsung, sedangkan antara lambang bahasa dengan referen (objek) tidak berhubungan langsung, karena harus melalui konsep.

- Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger