Halaman

Bapak

0 komentar

Sore tadi akalku dituntun untuk tak berdiri diam. Aku yang dengan kebingungan tak tau harus kemana. Ikuti saja kata hatimu. ucapku dalam hati. Tubuh yang tak berdaya ini menuntun diri yang angkuh ini ke salah satu desa yang dulu menjdi persinggaha yang sekarang telah menjadi kenangan. Bukan hilang atau diholangkan, tp pikiranku sendiri yg menghilangkan.
Saat pikiran yang goyah ini menuntun untuk pergi ke SMK Diponeogoro Karanganyar(berharap sekadar memandang wajah yang dulu aku kenal), seoraang bapak renta baya memberhentikanku dari perjalanan dan lamunanku. Nderek ndung, kata bapak itu sambil melambaikan tangannya. Akupun berhenti dan bapak itu pun membonceng motor. Beberapa meter berjalan sang bapak bertanya pada saya, "bade ten pundi?" pertanyaan sederhana yang harusnya sangat gampang untuk dijawab. Tapi bibirku begetar tak bisa mengucap sekatapun. Akupun balik bertannya, bapak saking pundi?
Dengan nada bergetar lantaran usia, ia menjawab;
"saking anak ten wonopringgo."
"la wangsule pundi pak?"
"sentul le."
Stelah itu aku lama terdiam memikirkan seseorang. Bapakku, otakku lnagsung merekam sosok tua yang sebenarnya tak begitu akrab tp aku merindukannya. Segera aku berpikir tentang kasih seorang bapak kepada anak.
"Apakah bapakku juga merindukaku dan ingin sekadar melihat anaknya seperti bapak ini?"
Otaku dipaksa berpikir untuk itu hingga air mata tak mampu terbendung lantaran akupunmerindukanmu ayah.

- Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger